Katanya Laki-Laki Lebih Logis. Emang Iya?
Gue pernah denger kalimat ini entah berapa kali: "perempuan mikir pake perasaan, laki-laki mikir pake logika." Diomongin santai, kadang sambil ketawa, seolah itu fakta yang udah gak perlu dibuktiin lagi. Semacam kodrat.
Tapi begitu gue coba telusurin dari mana kalimat itu sebenernya berasal yang gue temuin bukan riset, melainkan sejarah yang jauh lebih kotor dari yang gue kira.
|
| Katanya Laki-Laki Lebih Logis. Emang Iya? |
Suatu Hal yang Dipercayai Banyak Orang Belum Tentu Fakta, Bisa Jadi Keyakinan yang Diwariskan
Aristoteles yang sampe sekarang masih disebut bapak logika, pernah nulis bahwa perempuan itu semacam versi laki-laki yang gak lengkap.
Tapi coba inget, dia nulis itu pada saat kondisinya seperti apa? Yap pada saat kondisi masyarakat yang emang gak ngasih perempuan hak punya properti atau bicara di ruang publik. Jadi dalam konteks pernyataan Aristoteles itu bukan logika murni yang ngomong. Lebih kepada posisinya sebagai laki-laki yang diuntungkan sistem itu yang ngomong.
Ratusan tahun kemudian, filsuf-filsuf era Pencerahan yang katanya menjunjung akal budi, kayak Kant dan Rousseau, tetep aja nulis bahwa perempuan secara alami cocoknya ngurusin rumah dan perasaan, bukan ilmu-ilmu yang ngejelimet.
Menurut gue, situasi semacam ini lumayan ironis sih. Filsafat yang katanya soal rasionalitas murni, ternyata gampang banget kebawa bias zamannya sendiri.
Dari sinilah pondasi mitosnya ditanam. Bukan dari eksperimen, tetapi murni dari kepentingan.
Otak Laki-Laki dan Perempuan Tuh Sama
Sekarang lompat ke neurosains modern, karena di sinilah mitos ini seharusnya mulai goyah.
Gina Rippon, seorang peneliti neuroimaging, nunjukin bahwa gak ada yang namanya "otak laki-laki" dan "otak perempuan" sebagai dua kategori yang benar-benar terpisah.
Otak manusia itu plastis banget, dia dibentuk sama pengalaman dan lingkungan, bukan cuma kromosom.
Daphna Joel bahkan lebih spesifik. Dari analisis ribuan hasil MRI, dia nemuin bahwa tiap otak itu kayak mosaik, campuran fitur yang secara statistik lebih umum ada di laki-laki atau perempuan, tapi gak ada satupun otak yang sepenuhnya "maskulin" doang atau "feminin" doang.
Terus soal laki-laki katanya lebih jago logika? Meta-analisis besar dari Janet Hyde nunjukin bedanya di kemampuan kognitif, termasuk matematika dan penalaran, itu kecil banget, bahkan hampir gak kerasa secara praktis. Yang jauh lebih nentuin justru akses pendidikan sama ekspektasi sosial dari kecil.
Jadi kalau perempuan keliatan "lebih emosional," itu bukan karena otaknya beda. Itu karena dari kecil perempuan dilatih buat nunjukin emosinya, sementara laki-laki dilatih buat nyembunyiin.
Makanya gak heran kan, di negara kita sendiri (Indonesia) laki-laki yang nangis atau menunjukan ekspresi kekecewaan yang berlebihan dianggapnya sebagai orang yang lemah.
"Jadi laki-laki tuh harus kuat, gaboleh nangis" ungkapan yang seharusnya dimaknai sebagai bentuk motivasi, justru ditelan mentah-mentah hingga terlanjur membudaya dan hal ini yang menjadi cikal bakal munculnya pernyataan "Laki-laki itu logis, sementara perempuan lebih pakai perasaan."
Maka Pertanyaan Selanjutnya adalah Siapa yang Diuntungkan dari Mitos Ini?
Ini bagian yang bikin gue mikir lebih dalam. Soalnya pertanyaan yang lebih relevan bukan "apa laki-laki emang lebih logis," melainkan "siapa yang untung kalau semua orang percaya itu."
Pierre Bourdieu punya istilah buat ini, kekerasan simbolik. Maksudnya, dominasi itu ada bukan karena dipaksain, tapi karena tatanan yang sebenernya dibikin-bikin justru keliatan alami, sampe orang yang dirugiin pun ikut percaya.
Pembagian logis-emosional ini persis kayak gitu. Dia gak butuh paksaan, karena dua belah pihak sama-sama udah percaya duluan.
R.W. Connell nambahin satu lapis lagi. Mitos ini gak cuma nekan perempuan, tapi juga jadi standar yang maksa laki-laki buat nutupin perasaannya sendiri demi keliatan "rasional." Jadi ini bukan cuma alat buat ngerendahin satu gender, tapi alat disiplin buat semua orang yang gak masuk standar itu.
Kenapa Mitos Ini Susah Banget Ilang
Kalau ternyata gak ada bukti ilmiahnya, kenapa mitos ini masih bertahan hingga saat ini?
Jawabannya adalah karena mitos tersebut berguna secara ekonomi. Friedrich Engels udah nunjukin dari lama bahwa penindasan terhadap perempuan itu bukan soal biologi, tapi soal kepemilikan.
Ketika masyarakat mulai meyakini ini, kontrol atas tubuh dan kerja perempuan jadi penting buat mastiin warisan tetep jalan sesuai garis keturunan.
Lise Vogel nunjukin sisi lain lagi, kapitalisme butuh hal semacam kerja rumah tangga dikerjakan oleh perempuan, mulai dari ngelahirin, ngerawat, ngedidik, tapi kerja itu gak pernah dianggap kerja beneran karena gak dibayar.
Jadi hal tersebut dianggapnya sebagai hal yang muthlak harus dilalui oleh perempuan.
Nah supaya sistem ini tetep jalan, dibutuhin cerita bahwa perempuan emang "makhluk perasa" yang cocok banget buat peran itu, biar gak ada yang nanya-nanya kenapa kerjanya gak dibayar.
Silvia Federici bahkan nunjukin, di masa perburuan penyihir Eropa, perempuan yang punya pengetahuan dan bisa mandiri secara ekonomi justru yang paling sering dituduh dan difitnah.
Bukan karena mereka gak rasional. Justru karena mereka kelewat rasional dan mandiri buat ukuran zamannya.
Apa yang Bisa Kita Petik dari Adanya Fakta Ini?
Setelah nelusurin ini semua, gue jadi ngeh, mitos "laki-laki lebih logis" itu bukan cuma salah paham kecil yang lucu buat bahan becandaan atau bukan juga cuma istilah yang menjadi bahan perdebatan yang tiada hentinya.
Mitos tersebut punya sejarah panjang yang selalu nguntungin satu pihak, dan kebetulan pihak tersebutlah yang selama ini paling banyak nentuin standar "logis" itu sendiri.
Dan yang paling bikin gue mikir, mitos ini bertahan bukan karena dia bener. Dia bertahan karena dia berguna.
Berguna buat yang gak mau kerjaannya dipertanyakan. Berguna agar bisa menang argumen tanpa perlu ngasih argumen. Berguna buat sistem yang jalan di atas kerja yang gak pernah diakuin.
Posting Komentar