Gapapa, Capek (Sebuah Cerpen)
|
| Gapapa, Capek (Sebuah Cerpen) |
Ara sudah hafal kalimat itu.
Tiga kata. Selalu tiga kata yang sama, setiap kali ia merasa ada yang berbeda dari Raka. Setiap kali obrolan mereka terasa pendek, setiap kali Raka memilih diam di ujung telepon, setiap kali pesannya hanya dibalas singkat tanpa kelanjutan.
"Kamu kenapa?"
"Gapapa, capek aja kok."
Ara tidak pernah mempermasalahkan itu dulu. Ia pikir memang begitu cara Raka, pendiam, tidak banyak keluhan, terbiasa menyimpan sendiri.
Tapi sekarang, tiga bulan menjelang pernikahan mereka, sesuatu mulai terasa berbeda. Bukan lebih baik. Bukan lebih buruk. Hanya renggang. Seperti ada jarak kecil yang tidak pernah mereka bicarakan, tapi keduanya sama-sama merasakan.
Sore itu mereka janjian di kafe dekat rumah Ara. Raka datang membawa notes kecil, ada coretan daftar vendor catering beserta harga per paketnya.
"Wah, kamu udah riset sendiri?" kata Ara, mendekat untuk lihat. "Gimana kalau kita tambahin satu opsi lagi? Kemarin aku liat ada vendor yang reviewnya bagus tau, lokasinya juga lumayan deket."
Raka melipat notes-nya.
"Nanti aja deh. Kayaknya udah cukup ini."
Ara diam. Ia tidak salah, kan? Ia cuma mau ikut bantu. Tapi Raka sudah mengalihkan pembicaraan ke hal lain, dan percakapan soal catering itu selesai bahkan sebelum sempat dimulai.
Dua hari kemudian, Raka main futsal sama Bagas. Setelah selesai mereka duduk di pinggir lapangan, botol minum di tangan, napas masih belum stabil.
"Lo keliatan kagi banyak pikiran Ka" kata Bagas tanpa basa-basi.
"Capek." jawab Raka.
Bagas melirik. "Capek futsal atau capek yang lain?"
Raka tidak langsung jawab. Ia minum panjang, lalu meletakkan botolnya ke lantai.
"Ara tuh suka banget nanya balik," katanya akhirnya. "Gue lagi siapin sesuatu, eh dia langsung nambahin ini itu. Kayak gue ga pernah cukup."
Bagas mengangguk pelan. Tidak langsung komentar.
"Gue jadi males cerita," lanjut Raka. "Daripada nanti malah jadi debat."
"Debat??" Bagas mengulang kata itu. "Emang pernah beneran debat?"
Raka berpikir sebentar. "Ya engga sih. Tapi rasanya pasti akan mengarah ke sana."
"Ke sana gimana?"
"Kayak dia ngerasa ide gue tuh selalu kurang bagus, makanya dia selalu nambahin sesuatu."
Bagas diam cukup lama. Ia memutar botol minumnya pelan sebelum akhirnya bicara.
"Gue dulu juga gitu."
Raka menoleh.
"Waktu baru nikah sama Linda, gue pikir setiap kali dia nanya balik, itu artinya dia ga percaya sama keputusan gue. Jadi gue mulai nutup diri. Ga cerita terus ya jawab seperlunya aja."
"Terus?"
"Terus Linda nangis suatu malem. Bilang ngerasa kesepian, padahal kita ada di rumah yang sama dan bahkan dia ngerasa kalau gue gak seterbuka dulu pada saat pas pacaran."
Raka tidak berkata apa-apa.
"Ka, gue tanya satu hal." Bagas menatapnya. "Waktu Ara nanya atau nambahin sesuatu, lo pernah ga beneran dengerin maksudnya? Bukan cuma reaktif sama tindakannya?"
Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Karena yang gue liat," lanjut Bagas, "Ara itu bukan lagi ngehakimin lo. Dia lagi nyoba masuk ke dunia lo, mencoba mencermati latar belakang kenapa lo pilih keputusan itu dan lo selalu nutup pintunya sebelum dia sempet ketuk."
Malam itu Raka duduk lama di teras rumahnya sebelum masuk.
Mengingat-ingat berapa banyak percakapan yang ia akhiri duluan. Berapa banyak ide yang ia kubur sebelum sempat dibagi ke Ara. Berapa banyak kali ia menjawab "ga papa, capek" padahal sebetulnya ada yang ingin ia ceritakan.
Dan yang paling mengganggu: ia tidak pernah sadar bahwa itu bukan soal Ara. Itu soal sesuatu yang ia bawa jauh sebelum mereka bersama, rasa takut keliatan salah, keliatan kurang, keliatan tidak cukup.
Ara tidak pernah bilang itu. Tapi entah kenapa, ia selalu mendengarnya seperti itu.
Ia menelepon Ara.
"Halo? Tumben malem-malem nelfon, kamu kok belum istirahat," suara Ara terdengar sedikit kaget.
"Ra, waktu kamu nambahin soal catering kemarin..." Raka berhenti sebentar. "Itu karena kamu mau bantu, kan?"
Hening sebentar di ujung telepon dan Ara mulai paham ke arah mana omongan Raka barusann.
"Ya iyalah. Emang kenapa?"
Raka mengembuskan napas panjang. "Aku minta maaf, aku salah paham."
Ara tidak langsung menjawab.
"Kamu tau ga," katanya akhirnya, "hal yang paling bikin aku capek bukan pas kamu diem. Tapi pas aku ga tau kenapa kamu diem."
Raka mengangguk, meski Ara tidak bisa melihatnya.
"Kita mau nikah, Ka. Aku mau jadi tim kamu. Bukan sebagai juri yang seolah lagi menilai kamu."
Malam itu mereka ngobrol lebih lama dari biasanya lewat telepon. Tidak ada yang diselesaikan secara resmi, tidak ada kesimpulan besar. Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Raka tidak mengakhiri percakapan duluan.
Dan Ara tidak perlu menebak-nebak lagi apa yang ada di kepalanya.
Posting Komentar