Tantangan Orangtua Masa Kini: Trauma yang Diwariskan
|
| Tantangan Orangtua Masa Kini: Trauma yang Diwariskan |
Sebagai guru, ada satu hal yang sering bikin saya kadang ikut termenung di depan kelas dan atau ketika mendengar murid bercerita.
Bukan soal murid yang gak paham materi, juga bukan soal kurikulum yang terus berganti. Tapi soal percakapan-percakapan kecil yang sering terjadi saat pertemuan orang tua dan betapa banyak dari mereka yang datang dengan beban yang gak seharusnya mereka pikul sendirian.
Dunia Terasa Lebih Menakutkan, Tetapi Belum Tentu Lebih Berbahaya
Orang tua sekarang itu hidup dalam arus informasi yang gak pernah berhenti. Berita pelecehan seksual, kasus perundungan, anak muda yang terobsesi viral melalui cara yang kontroversial, semua itu masuk ke layar ponsel mereka dan akhirnya membuat overthinking sendiri.
Wajar kalau pada akhirnya mereka jadi overprotektif. Tapi yang sering luput disadari adalah bahwa ketakutan itu gak selalu berbanding lurus dengan ancaman nyata yang dihadapi anak mereka hari ini.
Saya pernah bicara dengan seorang ibu yang sangat membatasi waktu secara ekstrim ketika anaknya bermain di luar rumah karena takut hal buruk terjadi.
Padahal anaknya butuh berjejaring dengan temannya, butuh belajar bahwa dunia gak selalu sesuai keinginannya, kadang juga masalah dengan teman sebaya juga dibutuhkan (dalam batas wajar).
Kita harus anggap itu sebagai dinamika dan bukan sebagai kenakalan, sebab drama kehidupan remaja merupakan salah satu cara bagaimana mereka tumbuh dan menentukan soal benar dan salah, tentunya diiringi dengan bimbingan orangtua.
Ketika Trauma Orang Tua Ikut Diwariskan ke Anak
Ini yang lebih jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak orang tua yang tanpa sadar memproyeksikan kegagalan masa kecil mereka kepada anak.
Dulu sewaktu sekolah, orangtua merasa bodoh hanya karena gak bisa matematika, makanya kemudian ketika memiliki anak mereka memaksa anak les setiap hari meski si anak gak menunjukkan tanda-tanda kesulitan yang sama.
Atau ada pula orangtua yang memaksakan anaknya untuk ikut les persiapan masuk sekolah kedinasan, padahal anaknya lebih ingin untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.
Saya gak menyalahkan mereka. Niat mereka baik. Tapi niat baik yang gak didiskusikan dengan baik bisa menjadi tekanan yang anak rasakan setiap hari, meski anak gak pernah beri komentar satu kata pun.
Nilai Ujian Bukan Satu-Satunya Ukuran Keberhasilan Anak
Di ruang guru, diskusi soal ini sering muncul. Orang tua yang marah karena anaknya dapat nilai tujuh. Tanpa benar-benar tau bahwa si anak baru saja berhasil menyelesaikan konflik dengan temannya tanpa bantuan siapa pun, sesuatu yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berguna untuk hidupnya nanti.
Dunia yang akan dimasuki anak-anak kita menuntut kemampuan berpikir kritis, adaptasi, dan kolaborasi. Tapi banyak orang tua masih mengukur keberhasilan dari angka di atas kertas dan peringkat kelas yang bisa dibanggakan.
Anggapan itu memang tidak sepenuhnya salah, nilai akademik tetap penting. Tapi kalau itu satu-satunya tolok ukur, kita sedang menyiapkan anak untuk dunia di atas kertas.
Disadari atau gak, hal itu yang justru mematikan minat anak kita karena bisa jadi anak kita mengenyampingkan keinginannya demi memastikan tuntutan nilai yang dijadikan standar orangtuanya tercapai.
Gawatnya, mereka gak benar-benar mampu mengembangkan minat menjadi sebuah potensi kemampuan karena bergerak bukan ke arah keinginannya.
Tugas Orang Tua Bukan Membuat Anak Selalu Bahagia
Ini mungkin yang paling berat untuk didengar. Banyak orang tua datang ke sekolah dengan satu misi, yaitu memastikan anaknya terhindar dari ketidaknyamanan.
Dapat Nilai jelek? Buru-buru chat guru untuk nanya bagaimana mekanisme remedial.
Anak dimarahi guru? Orangtua maju untuk komplain .
Gagal lomba? Kemudian sistem yang disalahkan.
Saya mengerti dorongan itu. Melihat anak menghadapi kesulitan memang menyakitkan. Tapi anak yang gak pernah diizinkan gagal adalah anak yang gak tahu cara untuk bangkit.
Berhenti Membandingkan, Mulai Kenali Value Otentik dalam Diri
Kalimat seperti ini sering saya dengar. Dan saya paham betapa melelahkannya menjadi orang tua di tengah budaya perbandingan yang gak pernah berhenti.
Anak yang terus dipaksa mengejar standar orang lain lambat laun kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu rasa ingin tahu yang otentik, keberanian mencoba, dan kepercayaan bahwa dirinya cukup.
Akibatnya kepercayaan diri turun karena anak gak benar-benar yakin bahwa dirinya bisa.
Kemudian munculah pertanyaan yang sering ingin saya ajukan kepada orangtua. sebuah pertanyaan sederhana: "anak ibu/bapak sedang tumbuh menjadi siapa? dirinya sendiri, versi yang orang lain inginkan? atau versi ambisi balas dendam atas kegagalan orangtua di masa lalu?
Posting Komentar