Belajar dari Podcast: Kenapa Rasa Ragu Justru Bisa Jadi Tanda Berpikir
|
| Belajar dari Podcast: Kenapa Rasa Ragu Justru Bisa Jadi Tanda Berpikir |
Beberapa waktu lalu gue dengerin sebuah podcast yang bikin gue mikir ulang soal kebodohan, rasa ragu, mimpi, dan cara gue menjalani hidup selama ini.
Ada satu pertanyaan yang dilempar di tengah sebuah podcast dan entah kenapa justru pertanyaan itu yang paling lama nyangkut di kepala gue:
Ternyata jawabannya gak serumit yang gue kira. Orang bodoh rata-rata gak sadar bahwa dirinya bodoh. Dan tandanya bukan soal nilai rapor atau gelar akademik, melainkan soal kecepatan.
Impulsif: Salah Satu Ciri Kebodohan
Orang bodoh itu terburu-buru. Terburu-buru berpendapat, terburu-buru beropini, terburu-buru berkesimpulan.
Kalau dipikir-pikir, itu ngejelasin banyak hal yang gue lihat setiap hari di kolom komentar. Orang-orang berdebat soal gosip public figure, saling caci-maki, padahal mereka sendiri gak tau kebenarannya secara penuh.
Jujur, gue pernah ada di posisi itu. Ikut nimbrung di kolom komentar atas sesuatu yang sebetulnya gue gak benar-benar paham. Cukup baca judulnya, langsung ngerasa udah tau segalanya dan itu the real bodoh sih.
Apakah Rasa Ragu adalah Ciri Orang Cerdas?
Ada ungkapan menarik yang gue temukan: "A doubtful person is a thinking person." Orang yang ragu adalah orang yang berpikir. Bukan ragu karena gak punya pendirian, tapi ragu karena menyisipkan jeda sebelum bertindak, sebelum berkata, dan sebelum menghakimi.
Gue setuju, tapi dengan catatan. Soalnya kita hidup di era yang gak ramah sama keraguan. Terlambat ambil keputusan, kesempatan bisa kabur begitu aja. Paradoks yang nyata.
Tapi mungkin kuncinya bukan soal seberapa lama kita ragu. Lebih ke kualitas jeda di dalam ragu itu sendiri sih, jadi harusnya ragu yang dipakai buat mikir, bukan ragu yang berakhir jadi diam tanpa arah.
Media Sosial Mengubah Cara Kita Mengukur Diri Sendiri
Ini sebetulnya banyak orang yang gak mau ngakuin. Dulu kalau diingat-ingat tuh standar kita ya lingkungan sekitar. Orang paling sukses yang gue kenal waktu kecil, paling jauh ya tetangga atau teman sekelas. Cantik atau gantengnya juga diukur dari orang yang pernah ketemu langsung bukan selebgram, bukan orang viral di TikTok.
Ya memang disaat gue kecil juga banyak artis di TV yang memang cantik, tapi orang lebih sedikit yang membandingkan karena semacam ada pemahaman "To be an artist is to live in another world"
Sekarang? Tiap hari gue dibanjiri kehidupan orang lain yang keliatannya sempurna, liburan ke luar negeri, karier melesat, hubungan yang ideal. Dan banyak orang bahkan gue sering lupa juga bahwa itu semua adalah potongan yang dipilih dan layak diposting. Bukan konteks di baliknya, bukan juga capeknya.
Gue sendiri pernah ngerasa ketinggalan cuma gara-gara lihat teman seangkatan udah di sini, udah di sana, udah beli ini, udah bisa beli itu.
Padahal gue gak tau perjuangan apa yang mereka udah jalani dan gak mereka posting. Setiap orang punya alur hidupnya sendiri yang gak bisa dibanding-bandingin begitu aja.
Jangan Hidup Layaknya Zombie
Nah ini yang paling nyantol buat gue. Ada orang yang masih bernapas, masih bergerak, tapi jiwanya udah lama pergi karena ngikutin arus orang lain, standar orang lain, mimpi orang lain.
Dan gue pernah ngerasain sendiri. Dulu gue bermimpi bisa kuliah. Waktu akhirnya kesampaian, gue masih ngeluh padahal gue tau persis ini adalah pilihan gue.
Mungkin juga itu terjadi karena sewaktu berharap, gue sekalian menanamkan ekspektasi. Ketika harapan itu terealisasi dan ternyata beda dari yang dibayangkan sebelumnya, munculah keluhan itu.
Padahal kalau dipikir-pikir apa yang menjadi mimpi gue udah ada di depan mata. Gue udah berada di dalam samudra yang gue impikan, tapi karena bentuknya gak sedramatis yang gue bayangin, gue gak nyadar.
Pada akhirnya, keberanian terbesar gak selalu soal hal-hal besar. Kadang cukup dengan berani berhenti sejenak, ragu sebentar, dan nanya ke diri sendiri.
Ini hidup gue atau hidup yang diharapkan orang lain dari gue?
Posting Komentar