False Belief Diam-Diam Merusak Hubungan Tanpa Kita Sadari
|
| False Belief Diam-Diam Merusak Hubungan Tanpa Kita Sadari |
Beberapa waktu lalu gue nemu sebuah thread di Threads yang bikin gue berhenti scroll cukup lama.
Bukan karena dramatis. Tapi karena jujur, dengan cara yang jarang banget orang mau ngakuin secara terbuka.
Seorang suami cerita bahwa di sesi psikolognya, ia ditanya satu pertanyaan sederhana: "Apa yang kamu takutin di pernikahan ini?"
Jawabannya mengejutkan bahkan dirinya sendiri.
Ketika Pertanyaan Dibaca Sebagai Serangan
Dari situ psikolognya bantu ia trace balik. Dan ia nemuin sesuatu yang selama hampir 8 tahun tidak pernah ia sadari.
Setiap kali istrinya tanya balik atas ide atau rencananya, ia tidak pernah benar-benar mendengar pertanyaan itu. Yang ia dengar adalah: "ide lo gak cukup bagus", yang artinya "lo tidak kompeten", yang artinya ia harus defensif atau diam sebelum makin keliatan bodoh.
Jadi ia memilih diam. Menjawab "ga papa, capek." Mengubur ide-idenya sendiri sebelum sempat dibahas. Menyabotase diskusi bahkan sebelum dimulai.
Ia merasa suaranya tidak pernah didengar di rumahnya sendiri. Padahal ia yang tidak pernah mau ngomong.
False Belief yang Tidak Pernah Di Cari Tau
Yang bikin gue lama duduk dengan cerita ini adalah satu kalimat yang ia tulis:
"Belief yang belum pernah lo periksa bisa merusak hal yang paling lo sayangin. Bukan karena lo jahat. Bukan karena pasangan lo jahat. Tapi karena lo baca situasi lewat lensa yang salah, lewat sudut pandang yang keliru dan lo ga sadar kalau lo sedang melakukan kesalahan sampai ada omongan orang atau kejadian yang membuat lo bisa refleksi diri dan lepas dari kekeliruan itu."
Kita semua punya false belief. Keyakinan yang kita bangun dari pengalaman lama, dari luka lama, yang tanpa sadar kita bawa masuk ke hubungan yang baru. Dan karena kita tidak pernah memeriksa keyakinan itu, kita tidak sadar bahwa itu yang mengendalikan cara kita bereaksi.
Si suami ini membaca pertanyaan istrinya sebagai ancaman. Padahal istrinya cuma lagi nyoba jadi timnya.
"Supaya kita ga ada blind spot (kamu tau, sementara aku gelisah karena ketidaktauan aku). Itu aja."
Kalimat itu membuang sang suami menangis.
Yang Bikin Gue Mikir
Gue belum menikah. Tapi cerita ini bikin gue mikir tentang berapa banyak hal yang gue salah baca. Bukan hanya dalam hubungan romantis, tapi juga dalam pertemanan, keluarga, bahkan interaksi sehari-hari.
Dan yang lebih mengganggu, berapa banyak dari itu yang gue lakukan tanpa pernah sadar?
False belief tidak selalu datang dalam bentuk yang besar dan jelas. Kadang ia muncul dalam bentuk kebiasaan kecil. Diam saat harusnya bicara. Mundur saat harusnya maju. Menutup diri saat harusnya membuka ruang.
Dan kita tidak akan pernah tau lensanya salah, sampai ada yang bantu kita lepas. Atau sampai kita berani memeriksa sendiri.
Posting Komentar