Akhirnya hari itu tiba, hari dimana rutinitas tak lagi sama. Rasanya sedikit aneh saat menyadari bahwa besok, aku tidak perlu bangun terburu-buru untuk sekedar mengejar waktu ke tempat itu. Juga tak lagi melihat macet yang mengiringi jalan dari ibukota ke kota yang berbeda.
|
| Tentang Titik, Koma, dan Paragraf Selanjutnya |
Lega rasanya membayangkan fisik ini bisa istirahat sejenak. Tak perlu lagi menepi untuk sekedar menunggu rintik yang tak pasti kapan akan berhenti. Jaket dan kendaraan itu juga sepertinya butuh jeda. Juga tidak perlu lagi bingung memikirkan rute mana yang harus diambil untuk sekedar menghindari macet yang labil.
Biar bagaimanapun cerita harus terus ditulis.
Hidup tidak berhenti hanya karena memutuskan satu dan dua hal. Lagipula titik bukan melulu soal pengakhiran cerita, bisa jadi membawa kabar mengenai chapter selanjutnya.
Begitupun juga koma, seringkali cuma dipandang sebagai jeda padahal banyak fungsinya. Supaya cerita enak dibaca misalnya, ataupun sebagai tempat untuk menghela nafas juga bisa.
Dijalan menyusuri arah pulang, banyak kenangan yang dijajakan dipinggir jalan. Ada yang memamerkan potret kebahagiaan, ada juga yang merenung menatap lukisan bertemakan kesenjangan.
Tapi kendaraan yang membawaku tak menepi dan memilih untuk terus melaju, keluar dari lorong waktu sampai pada akhirnya ada sebuah bangunan dengan anak muda yang berdiri di depannya.
Anak muda itu berdiri ditemani canggung sebagai teman satu satunya. Terlihat memang sekelilingnya masih asing, berhadapan dengan orang-orang baru dan kebiasaan baru. Hingga akhirnya adaptasi datang dan mengambil alih cerita selanjutnya. Hingga akhirnya terbiasa dan menjadi bagian dari perjalanannya.
Sekarang, sudah berada di penghujung lorong waktu. Terlihat sejumlah orang mulai melanjutkan langkahnya sendiri. Menjadi bagian dari cerita pada semesta yang berbeda.
Di sisi utara ada yang rajin post untuk terus bisa berkabar dengan rekan sosialnya. Di sisi lainnya ada yang bahagia pada kemunculan tokoh baru pada hidupnya, dan di sudut ruang ada yang lebih menikmati waktu kesendiriannya.
Tapi apapun situasi yang menyertai mereka, penulis cukup bahagia. Senang rasanya pernah berinteraksi dan berbagi waktu dengannya.
Pada akhirnya kita akan kembali pada ungkapan, manusia punya harapan tapi keadaan punya kenyataan.